Tujuan Wisata Hijau Di Surabaya

Wacana green living saat ini memang sedang gencar dilakukan oleh para aktivis peduli lingkungan. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran mayoritas orang tentang penyelamatan lingkungan di bumi. Namun, tidak semua masyarakat buta akan pentingnya gaya hidup hijau. Mongabay Indonesia beberapa kali melansir berita tentang kepedulian para aktivis lingkungan dari kalangan artis, seperti Slank, Jerinx “SID”, Glenn Fredly, dan masyarakat dari berbagai daerah.

 

Surabaya terkenal sebagai kota metropolis kedua setelah Jakarta. Kota yang mendapat julukan Kota Pahlawan ini merupakan pusat industri, lembaga pendidikan, gedung pemerintahan, dan lahan subur bagi sentra bisnis. Panas terik cuacanya juga tidak mampu menahan keinginan wisatawan untuk berkunjung ke Ibukota Jawa Timur ini. Luasnya Kota Surabaya memang masih menyimpan potensi wisata yang menarik. Berbagai jenis museum, beragam cita rasa resto dan café, dan variasi mall megah. Namun, siapa sangka, Surabaya juga masih menyediakan wisata #liburanhijau yang cocok untuk menikmati green living.

1. Kebun Bibit Wonorejo

Taman rekreasi kebun bibit Wonorejo sudah ada sejak tahun 2011. Sebelumnya, area ini hanya digunakan untuk pembibitan berbagai tanaman yang memenuhi kebutuhan penghijauan kota. Lokasi yang dihiasi telaga ini kemudian direvitalisasi dan dimaksimalkan fungsinya. Tidak hanya area mengembangbiakkan berbagai tanaman, tapi sekaligus sebagai tempat wisata yang bisa dinikmati warga kota.

Menurut informasi majalah Surabaya City Guide edisi Juli 2011, Hidayat Syah, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya akan melengkapi kebun bibit ini dengan berbagai fasilitas sehingga mirip dengan taman-taman lain di Surabaya. Area dengan luas 5.9 hektar tersebut dilengkapi dengan sarana jogging track, arena bermain anak, dan food terrace.

Selain memiliki telaga, jogging track, dan taman bermain, terdapat area pembibitan tanaman yang tetap dipertahankan sebagai aset kebun. Sebagai tempat pembibitan tanaman, kebun ini dimanfaatkan anak-anak sekolah untuk mengenal nama dan bentuk tanaman serta cara merawat dan mengembangbiakkannya. Hal ini bisa mendukung kesadaran akan cinta lingkungan terhadap anak-anak.

Berbagai tanaman yang ada di kebun ini antara lain jenis pohon pelindung, tanaman hias, dan tanaman berkhasiat obat. Ada petugas khusus yang siap mengajarkan cara pembiakan tanaman. Masyarakat yang gemar bersepatu roda juga bisa memanfaatkan area kebun bibit Wonorejo sebagai tempat yang nyaman yakni di sisi barat kebun tersebut.

Kebun bibit Wonorejo berada di Jalan Kendalsari Wonorejo, Rungkut, Surabaya. Menuju lokasi wisata ini, dari jalan Nginden, Anda langsung melewati jalan baru hingga jembatan MERR, lalu belok ke kiri. Sepanjang jalan ini Anda akan menemui kampus STIKOM, terus ke arah timur sampai sekolah IPH lalu belok kanan tembus jalan Wonorejo. Sesampai di penghujung jalan Anda belok kiri. Sekitar 10 meter Anda sampai di Kebun bibit Wonorejo. Posisi kebun ada di sebelah kiri.

2. Ekowisata Mangrove Wonorejo

Dikutip dari laporan Mongabay Indonesia, data dari Kementerian Kehutanan luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan sekitar 9 juta hektar di tahun 2000. Namun luasan ini terus berkurang drastis hingga tahun 2005, dimana sekitar 65% hutan mangrove sudah rusak atau hilang setelah diubah menjadi peternakan udang, perkebunan kelapa sawit, wilayah pertanian dan pengembangan tempat tinggal bagi manusia. Hutan mangrove Indonesia diperkirakan tinggal tersisa sekitar 3,6 juta hektar saja saat ini.

Salah satu hutan mangrove tersebut berada di kawasan Surabaya. Sudah tidak asing lagi bagi warga Surabaya jika kotanya yang terkenal sarat akan bisnis mallnya ini ternyata masih menyimpan potensi wisata penyelamat lingkungan. Potensi wisata tersebut ditunjukkan dengan adanya ekowisata mangrove Wonorejo yang terletak di Jalan Raya Wonorejo Nomor 1 Rungkut, Surabaya.

Wisata ini dikembangkan sedemikian rupa untuk memanfaatkan waduk sehingga bisa mengendalikan banjir. Keberadaan hutan mangrove ini pun menjadi habitat bagi berbagai jenis burung termasuk burung migrant dan burung yang dilindungi seperti Bubut Jawa, Raja Udang, Kuntul, dan lain sebagainya. Pengunjung juga dimanjakan dengan keindahan pemandangan panorama pantai dan eksotisnya flora dan fauna yang dapat dilihat secara langsung di joglo yang berada di tengah pantai.

 

Pengunjung bisa menaiki perahu untuk menikmati pemadangan ekowisata mangrove Wonorejo. Gambar diambil dari kehutanan surabaya.go.id

Pengunjung bisa menaiki perahu untuk menikmati pemandangan ekowisata mangrove Wonorejo. Gambar diambil dari kehutanan surabaya.go.id

 

Pengunjung bisa menikmati keindahan mangrove dari dekat dengan menyeberang menggunakan perahu. Perjalanan dari dermaga keberangkatan ke dermaga mangrove memakan waktu sekitar 15-20 menit. Perahu tersebut berkapasitas 30 orang dengan seorang petugas yang akan menjelaskan seputar kawasan ekowisata mangrove ini.

Menelusuri kawasan mangrove ini pun terasa nyaman karena tersedia jogging track yang terbuat dari anyaman bambu. Jogging track tersebut dinaungi pohon mangrove di sisi kanan dan kiri sehingga tidak panas. Kawasan ekowisata mangrove Wonorejo ini juga sering dijadikan area untuk para pecinta lingkungan untuk menanam pohon bakau.

Ekowisata mangrove Wonorejo ini banyak dijadikan referensi wisata baik dari dalam maupun luar negeri. Dikutip dari majalah Surabaya City Guide edisi Juli 2012, kawasan ini dijadikan percontohan dalam proyek Mangrove Ecosystem Conservation and Sustainable Use (MECS) yang merupakan hasil kerjasama antara Kementrian Kehutanan RI dengan Japan International Agency(JICA).

3. Mangrove Gunung Anyar

Wisata Anyar Mangrove (WAM). Gambar diambil dari goindonesia.com

Mongabay Indonesia menjelaskan bahwa fungsi mangrove untuk menyediakan nutrisi bagi ikan-ikan, mereka mampu melindungi kawasan pesisir dari terjangan badai tropis, mencegah terjadinya erosi akibat air laut, menyimpan jutaan ton karbon, dan menjadi rumah bagi berbagai jenis spesies yang tidak ditemukan di kawasan lainnya.

Pentingnya pelestarian mangrove ini direalisasikan dengan adanya Wisata Anyar Mangrove (WAM) yang merupakan pilihan lain bagi para pecinta pemandangan hutan bakau. Objek wisata ini masih terbilang baru di Surabaya. Lokasinya berada di sekitar 2 km arah timur kampus UPN.

Pengunjung bisa menikmati pemandangan mangrove dilengkapi dengan binatang yang masih liar seperti monyet berekor panjang dan berbagai jenis spesies burung. Obyek wisata ini melibatkan banyak unsur masyarakat lokal seperti petani tambak, nelayan, UKM, RT, RW, PKK, Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) serta Karang Taruna.

Kedua kawasan mangrove tersebut diatas perlu dilestarikan dan dijaga keberadaannya, agar hutan yang memiliki sarat fungsi ini tidak semakin berkurang keberadaannya. Wisatawan Surabaya yang berminat datang ke tempat ini tidak hanya bisa menikmati pemandangan alamnya, tapi juga bisa ikut menanam dan merawat bakau di area tersebut.

4. Kampung Wisata Lingkungan Jambangan

Plang menuju kampung wisata Jambangan.Gambar diambil dari traveldetik.com

Plang menuju kampung wisata Jambangan.Gambar diambil dari traveldetik.com

Kedatangan warga dari pusat kota Surabaya dan Gresik ke wilayah Jambangan sekitar tahun 1970-an waktu itu tidak dibarengi dengan penataan lingkungan kampung yang sehat. Akibat kekumuhan itu, seorang bernama Sriyatun (alm) berinisiatif melakukan sosialisasi untuk menciptakan lingkungan bersih.

Dalam kurun waktu yang relatif lama, kegigihan Sriyatun membuat warga Jambangan akhirnya sadar akan pentingnya menjaga lingkungan mereka. Warga mulai gotong royong membuang sampah, membersihkan jalanan kampung, menanam tanaman hijau, dampai dengan memilah dan mengolah sampah.

Gerakan warga untuk lingkungan bersih itu diusahakan secara swadaya, tidak ada bantuan langsung dari pemerintah kota atau dari perusahaan-perusahaan yang berada di sekitarnya. Namun pada akhirnya, usaha warga tidak sia-sia. Berbagai penghargaan baik dari pemerintah maupun masyarakat internasional sering didapat.

Gerakan yang dilakukan warga Jambangan antara lain manajemen pengolahan sampah. Sampah basah diolah menjadi kompos, dan sampah kering didaur ulang menjadi berbagai kerajinan tangan, seperti taplak, payung, jaket, aneka macam tas, hingga souvenir cantik dari bahan botol plastik.

Kampung wisata lingkungan Jambangan sering meraih penghargaan dalam berbagai lomba yang berkaitan dengan lingkungan. Kampung Jambangan terletak di Jalan Jambangan Sawah No. 2 Kecamatan Jambangan, Surabaya.

5. Kampung Ijo Genteng Candirejo

Kampung Ijo Genteng Candirejo juga merupakan kampung yang mengusung konsep green livingselain kampung wisata Jambangan. Beralamat di kampung Genteng Candirejo RT 03 RW 08 Kelurahan Genteng Kecamatan Genteng Surabaya, warga kini telah menumbuhkan kesadaran untuk bersama-sama hidup sehat, mandiri, kreatif, sekaligus menyelamatkan bumi dari pemanasan global.

Gang Genteng Candirejo telah tumbuh dan berkembang menjadi sebuah obyek wisata lingkungan alternatif dengan julukan Kampung Eco Tourism. Warga yang tinggal bergotong-royong menanami lingkungannya dengan beragam tanaman hias. Kampung lawas dengan rumah-rumah bergaya arsitektur colonial itu pun menghadirkan nuansa klasik dan eksotis.

Warga juga mengolah dan memilah sampah. Dikutip dari majalah Surabaya City Guide edisi Februari 2009, tiap dua minggu sekali sampah yang sudah dipilah dikumpulkan di depan balai. Beberapa sampah didaur ulang, sementara lainnya dijual. Hasil daur ulang dijadikan berbagai macam kerajinan seperti tas, bunga kering, dan lain sebagainya. Kampung ini juga memiliki fasilitas seperti pompa air di lima titik dan sumur biopori sebanyak 47 titik.

Warga kota yang ingin berjalan-jalan di kampung ini akan disuguhi keindahan lingkungan dan bisa juga menikmati hasil karya warga. Warga kampung ini secara kreatif telah membuat jus blimbing, sirup blimbing, selai, dan manisan. Keunikan lainnya, di depan rumah warga ditempeli berbagai jenis jargon untuk memberi semangat kepada warga akan arti penting menjaga lingkungan seperti: tepung roti wadahe coklat, kampung bersih wargane sehat, dan slogan-slogan lain semacamnya.

6. Wisata Sungai Kalimas

Dalam sejarahnya, Surabaya pernah memiliki sungai-sungai yang amat ramai sebagai lalulintas transportasi dan perdagangan. Menyebut beberapa diantaranya Kalimas, Kali Wonokromo, dan Kali Surabaya. Seiring dengan lamanya rentang waktu, sungai-sungai tersebut makin tercemar karena limbah industri dan sampah yang dibuang oleh manusia.

Merujuk informasi Mongabay Indonesia, upaya memperkuat kesadaran untuk menjaga lingkungan perairan, terutama sungai sebagai sumber air terdekat bagi manusia, kini semakin luas merambah ke berbagai kalangan di Jawa Timur. Sekelompok ibu-ibu PKK dari Dusun Sarirejo Desa Bambe Driyorejo Gresik berkomitmen untuk membersihkan sampah di tepi sungai dengan melakukan kerja bakti setiap hari minggu untuk mengurangi beban pencemaran dan menghimbau masyarakat agar tidak lagi membuang sampah maupun buang air besar di sungai.

Sungai kalimas surabaya. Gambar diambil dari demotix.com

Sungai kalimas surabaya. Gambar diambil dari demotix.com

Sungai lain yang kini sudah mendapat perhatian serius akan kebersihannya adalah sungai Kalimas Surabaya. Sungai ini pun akhirnya dijadikan objek wisata oleh Pemerintah Kota Surabaya, selain itu Pemkot juga sering mengadakan kegiatan yang berfokus pada Sungai Kalimas ini.

Sungai Kalimas kini kebersihannya relatif terjaga. Masyarakat bisa menumbuhkan kesadaran menjaga kebersihan sungai dengan mengunjungi objek wisata Sungai Kalimas ini dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kebersihan dan keindahan pemandangan Sungai Kalimas bisa dinikmati dengan menaiki perahu.

Wisata air ini tidak pernah sepi pengunjung. Pemkot Surabaya juga telah membuat agenda rutin di Sungai Kalimas ini yaitu festival perahu hias. Sepanjang Kalimas, pengunjung bisa menjelajahi Taman Prestasi di Ketabangkali hingga Jembatan Gubeng, dekat Monumen Kapal Selam (Monkasel). Wisata Sungai Kalimas ini beroperasi hanya di hari Minggu dan hari libur mulai jam enam sampai jam sebelas siang.

Keenam destinasi wisata #LiburanHijau ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca untuk melestarikan lingkungan. Terbukti, dengan melestarikan dan merawat kebersihan dan selalu melakukan penghijauan bisa mendatangkan pundi-pundi tersendiri. Keunikan tempat-tempat di Surabaya tersebut dapat dijadikan referensi kunjungan wisata yang ramah lingkungan.

Sumber : http://readersblog.mongabay.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *